Cewek-cewek Cantik Bertatto Yang H0t Banget



Indahnya wanita memanng tidak bisa lepas dari hiasan cantik untuk dunia. Bayangkan jika dunia ini tidak ada wanita ??.....Apa yang akan terjadi dan apa yang dilakukan seorang pria tanpa adanya wanita.......hehehehehe......pasti bete, garing, dan pusing tujuh keliling.

Hal yang mudah untuk dimunculkan adalah sebuah gambaran tentang wanita cantik dalam suatu suasana yang indah pula. Biar dunia tidak sepi dan garing lagi. Maka pada kesempatan ini ane akan memunculkan sebuah penampakan dari cantiknya seorang wanita dalam keindahan dan keseksian gayanya.

Wanita yang akan muncul ini, bernama Novi Shandra. Asalnya Jakarta, profesinya model. Bisa terkenal, bisa juga baru terkenal. Yang penting wanita yang satu ini sangat layak untuk disebut cantik dan bertato seksi.........Langsung saja ya.....

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

009832


[imagetag]

Cinta itu Keindahan yang Sederhana

“Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.” (Darwis Tere Liye)

Terkadang berasumsi dengan perasaan membuat kita menjadi gelisah, was - was, tidak tenang, dan segala perasaan ganjil lainnya yang sama sekali tak mengenakkan. ah.. itulah sekelumit perasaan, entah apa namanya, empati mungkin atau simpati atau bahkan cinta. Namun bukankah cinta itu begitu sederhana seperti yang pernah dikatakan oleh Rumi : "Aku mencintai dengan cara yang sederhana seperti matahari yang mencintai titah Tuhannya". Lalu kenapa ditangan kita perasaan ini menjadi begitu rumit, begitu sulit dipahami, entah...

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka dilanda perasaan cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya. entahlah...

Apa sebenarnya definisi dari cinta, entahlah kita sama - sama tidak mengetahui, logika yang ia punya sulit dimengerti oleh akal, ia mempunyai logika tersendiri, sementara beberapa pakar mulai mencoba mengartikannya namun tetap saja ia tidak mempunyai pengertian, untuk sejenak saya kembali mengutip Rumi: "Ketika Cinta telah kujelaskan dan kupaparkan panjang lebar, namun ketika cinta kudatangi, aku jadi malu dengan keteranganku sendiri, kata - kata menjadi tanpa suara ketika mengatakan cinta, pena begitu tergesa - gesa dalam menuliskannya, akal terbaring lemah tak berdaya bagai keledai yang terbaring di atas lumpur, karena hanya cinta sendirilah yang mampu menjelaskan cinta dan percintaan". Diluar ketidakjelasan pengertiannya, cinta tetaplah hal sederhana yang luar biasa, karya - karya besar yang lahir di dunia ini hampir pasti disebabkan oleh cinta, lihatlah, piramida di Mesir, Taj Mahal di India, Taman Gantung Babylonia, Karya Michael Angelo di Roma Vatikan, Borobudur di Indonesia, Syair - Syair Romerus, Sajak - Sajak Rumi, itu semua dilatarbelakangi Cinta.


Cinta terkadang dipenuhi dengan kebetulan - kebetulan yang tak terduga, pertemuan yang tak terduga, yang mengalir tanpa harus di buat- buat, terus melaju tanpa harus dipaksakan sehingga benarlah mugkin sebuah ungkapan kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya

Cinta sejati selalu menemukan jalan, ada saja kebetulan - kebetulan pertemuan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas. Tidak usahlah kita gundah gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Bujankah, skenario dari langit itu adalah yang paling baik, jadi tak perlu lah kita gelisah, langit selalu punya skenario terbaik.

Cinta ibarat Pohon,akarnya kerendahan hati, batangnya penyerahan diri, dahannya takut krn kekaguman dan juga cinta adalah sejilid buku dalam  satu kata, samudera dalam setetes air mata, langit dalam  satu pandang dan seribu tahun dalam satu detik. Berbahagialah bagi mereka yang menemukannya, sebuah keindahan yang begitu sederhana, yah sesederhana itu...


Hei Bung, Revolusi Kita belum Selesai


Kepada Yth. Ir Soekarno
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia


Selamat malam Bung,
Maaf aku mengganggumu, aku hanya ingin sedikit berbicara padamu.

Hei Bung, kamu masih ingat Chairil Anwar, ya sastrawan terkenal itu, iya pernah membuat puisi untukmu, aku harap kau masih mengingatnya, ah... kalau pun engkau lupa, aku tulis kembali untukmu.

Ayo ! Bung Karno Kasi Tangan Mari Kita Bikin Janji
 Aku Sudah Cukup Lama Dengan Bicaramu
 Dipanggang Diatas Apimu, Digarami Lautmu
 Dari Mulai Tgl. 17 Agustus 1945

 Aku Melangkah Ke Depan Berada Rapat Di Sisimu
 Aku Sekarang Api Aku Sekarang Laut
 Bung Karno ! Kau Dan Aku Satu Zat Satu Urat
 Di Zatmu Di Zatku Kapal-Kapal Kita Berlayar
 Di Uratmu Di Uratku Kapal-Kapal Kita Bertolak & Berlabuh
(Persetujuan Dengan Bung Karno)


Ternyata engkau punya janji, sebuah janji revolusi, dan revolusi itu belum selesai!

Dulu kau pernah menggarami kami dengan api kemerdekaan, dengan api revolusi, dalam pengadilan Belanda di Bandung, engkau meneriakkan “Indonesia Menggugat” ketika Inodnesia itu sendiri belum terlahir ke dunia ini, kau menggelegar mengkritik kolonialisme dan imperialisme terhadap Nusantara, tapi taukah sekarang Bung, kita belum sepenuhnya merdeka, kita masih terjajah, mereka masih berkuasa Bung, Mereka menanamkan modalnya yang mengakar untuk menjarah apa yang kita punya, sumber daya alam kita habis, dan kita menjadi pembantu dirumah sendiri,  Revolusi kita belum Selesai, Bung!

Kau juga pernah bicara tentang Kebhinekaan, ah... Taukah kau, setelah kepergianmu yang mengejutkan itu, Negara kita telah terjadi banyak pertumpahan darah, peristawa pengahabisan eks anggota PKI, peristiwa Malari, perseteruan antar dayak dan Madura, peristiwa Poso, dan banyak lagi.
Masih banyak yang belum mengerti arti kebhinekaan yang kau jelaskan, Pancasila seolah menjadi yatim piatu tanpa engkau, ayo Bung bantu kami, karena Revolusi kita belum selesai!

Lalu aku pernah membaca tulisanmu mengenai Islam, Agama yang sangat kau cintai.
Engkau pernah menulislkan kekagumanmu kepada Muhammad dan ajarannya yang memuliakan manusia, yang memerdekaan manusia, ya aku sangat mengagumi tulisanmu itu Bung, Engkau Lalu mengkritik tentang pemahaman islam yang direduksi / dipersempit oleh sebagian ulama, ya puncaknya ketika engkau bicara tentang “Api Islam” dan “Islam Sontoloyo”.  Aku beri tau padamu, masih segelintir orang yang memahami ruhnya islam yang menerangi, ruhnya islam yang merahmati semua alam dan masih terlalu banyak kaum – kaum “sontoloyo” yang masih berkeliaran Bung, mereka mecoba memonopoli kebenaran hanya dalam sisi mereka, ya mereka seolah yang memegang tiket sorga, mereka masih saja meneriakkan nama Tuhan sambil memukul dan membunuh, ayo Bung! Dimana engkau sekarang, mana Tulisan – tulisanmu, ayo kita gelorakan kembali islam yang rahmatan lil ‘alamin, ayo Bung, Revolusi Kita belum Selesai!

Hei Bung Karno, engkau yang pernah menggelorakan semangat kami, dengan berteriak : “Hei Rakyat Indonesia, Ini dadaku, mana dadamu” engkau juga pernah mengatakan: “Go To Hell with your Aid”ketika kedaulatan kita terancam,. Sekarang kita terancam kembali Bung atas kedaulatan kita, kita terancam atas ekonomi, atas politik, atas kedaulatan. Dan sekali lagi saya katakan kepadamu, bahwa Revolusi kita belum selesai!

Ayo Bung Karno seperti kata chairil Anwar pada puisinya, engkau sudah terlanjur menggarami kami dengan lautmu, kau panggang kami dengan api semangatmu, engkau kobarkan kami dibawah bendera revolusimu, ayo kita selesaikan!!!

Hei, dulu pernah kau mengatakan: "seribu orang tua hanya bisa bermimpi, beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncangkan dunia".  Ini kami Bung, kami siap menerima tantanganmu, ini dada kami, ini jiwa kami ayo kita teriakkan kembali semangat  "Merdeka atau Mati" .

Ah sudahlah mungkin kau sudah terlalu lelah, tapi aku katakan sekali lagi: REVOLUSI KITA BELUM SELESAI!

Pendidikan Yang Berkarakter!




Seorang Terpelajar sudah seharusnya bersikap adil, sudah sejak alam pikiran, apalagi dalam perbuatan
(Pramoedya Ananta Toer)

Pendidikan merupakan indikator kemajuan suatu bangsa. Suatu bangsa yang memiliki system pendidikan yang baik tentunya akan mempunyai sumber daya manusia yang mumpuni untuk membangun negeri, ada Negara besar yang terpuruk karena system pendidikannya buruk, namun adapula Negara dengan sumber daya terbatas namun mempunyai system pendidikan yang baik mampu menjadi Negara yang maju baik dari segi ekonomi maupun teknologi.

Dalam pengertian ini, akan terasa wajar apa yang pertama kali ditanyakan seorang kaisar jepang pasca bom nagasaki dan hirosima yang meluluhlantakkan Jepang dan juga menjadi akhir perang dunia !!: “Berapa jumlah guru yang tersisa dinegeri kita?’ ujar sang kaisar. Disini ada self awareness dalam diri sang Kaisar untuk kembali membangun negerinya, dimulai dari mencerdaskan bangsanya. Dan kenyataan hari ini menunjukkan tidak butuh lama bagi Jepang untuk menjadi salah satu gerbong terdepan negara maju dengan berbagai buah intetektual masyarakatnya.

Dalam konteks ini, saya mencoba mengulas sistem pendidikan Indonesia pada masa Hindia Belanda yang kurikulumnya mengacu pada system pendidikan Belanda, yang menurut saya dapat kita contoh dan terapkan untuk system pendidikan Indonesia dewasa ini. Banyak intelektual – intelektual Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan lahir dari kalangan cerdik pandai hasil didikan sekolah Indonesia bentukan Hindia Belanda. Sebut saja Agus Salim, Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, dll. Bahkan Hatta dan Syahir merupakan lulusan dari Universitas di Belanda.

Pendidikan pada masa itu, walaupun di masa Indonesia belum merdeka namun mampu menciptakan kesadaran moral dan intelektual bagi para pelajarnya. Dan secara kualitas pun pendidikan setara SMP pada masa itu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau HBS (Hogere Burger School) yang setara SMA, lulusannya minimal menguasai 3 bahasa asing: Belanda, Inggris dan Prancis. Dapat kita bayangkan betapa luar biasanya lulusan  universitas jika lulusan sekolah menengahnya saja seperti itu.

Apa yang menjadi perbedaan dasar dari system pendidikan dahulu dan sekarang?. Dalam tetralaogi Buru pada novel Boemi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan kehidupan kaum terpelajar pribumi masa Hindia Belanda ada beberapa hal yang membedakan kualitas pendidikan pada masa itu dan sekarang.

Pertama, Sistem Pendidikan yang mengekplorasi kreatifitas. Dengan kreatifitas kita dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan, kreatifitas menuntut kita untuk selalu berfikir untuk memecahkan sesuatu masalah dengan berbagai macam cara, dengan berbagai macam sudut pandang. Dan system pendidikan yang mengeksplorasi kreatifitas inilah yang ada masa Hindia Belanda dahulu dan belum muncul pada masa pendidikan sekarang. Dalam Bahasa Einstein: “Imagination is more than important than knowladge, knowladge can take a person to move from a to b, but imaginations can take a person from a to everywhere thet want”

Kedua, Sistem pendidikan yang memerdekakan pikiran, pada masa Hindia Belanda, seperti yang diceritakan Pramoedya dalam novelnya memberikan kebebasan penuh kepada pelajarnya untuk mengemukakan pendapatnya, diskusi ilmiah pada masa itu merupakan kegiatan yang lebih mendominasi dibandingkan dengan kegiatan belajar lainnya. Guru bertindak sebagai fasilitator yang menengahi dan sebatas memberikan Brain Storming, selebihnya merupakan kesempatan siswa untuk menyatakan apa yang menjadi pendapatnya. Dengan pendekatan eksplorasi pemikiran dengan memberanikan seseorang untuk mengeluarkan idenya dengan cara yang terstruktur akan dapat mengasah seorang untuk melihat suatu permasalahan dengan berbagai sudut pandang, sehingga sikap toleran akan terbentuk dan tertanam dalam mengahdapi berbagai perbedaan pandangan.
Saya teringat betapa menariknya korespondensi antara Soekarno dan Natsir yang mendiskusikan tentang Islam dan Modernitas, atau Korespondensi antara Soekarno dan Hatta mengenai Nasionalisme. Mereka berbeda pandangan, namun mampu dengan elok membahsakan perbedaan pendapat mereka dalam suatu korespodensi melalui media masa sehingga, masyarakat mampu membaca darimana awal suatu pemikiran terbentuk, awal suatu sudut pandang mampu berubah menjadi suatu sikap.

Ketiga, Sistem Pendidikan dengan budaya iterasi, budaya menulis dan membaca.  Karena kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk tulisan adalah sebuah bukti mutlak bangsa berperadaban tinggi. Menulis berbagai hal, menuliskan ide-ide besar, menulis tentang sains, budaya, seni. Sejarah mencatat, semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Pada masa pendidikan era Hindia Belanda kita akan temui banyak sekali surat kabar yang memuat tulisan – tulisan kaum terpelajar. Nama – nama seperti Hatta, Soekarno, Kartini, Natsir, dan banyak lagi adalah mereka yang banyak mengemukakan pendapatnya melalui tulisan.

Dengan ketiga perbedaan yang dijelaskan diatas, kita tidak usah sungkan untuk mengadopsi system pendidikan Negara lain atau kembali mencontoh sistem pendidikan dimasa lalu untuk dimodifikasi dan di interpretasikan dalam konteks Indonesia sekarang. Ketika Indonesia masih dalam keadaan terjajah system pendidikannya mampu melahirkan intetektual terpelajar yang memerdekakan maka harusnya ketika Indonesia sudah merdeka, Intelektual pelajar yang dihasilkan system pendidikan Indonesia bisa jauh lebih baik dari dahulu.

Finish!

Sunset Bersama Rosie : Cinta adalah Persahabatan




Title : Sunset Besama Rosie
Author : Tere Liye
Publisher : Republika
Pages ; 425 





“Dan kelak kau akan menyadari, dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa – apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan atas apa – apa yang kau kerjakan”

Dalam novel ini, penulis Tere liye dengan sangat berhasil sekali membawa pembacanya ke dalam bentuk pemahaman baru tentang arti kesempatan, perasaan serta cinta?

         Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu – begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang.

Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau Priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu yang amat spesial diwaktu yang juga spesial? Atau boleh jadi gratis. Karena kita lakukan saja dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali – kali.

Sebenarnya, apakah itu arti ”kesempatan”? Apakah itu makna ”keputusan”? Bagaimana mungkin kita terkadang menyesal karena sebuah ”keputusan” atas sepucuk ”kesempatan”? Sebenarnya, siapakah yang selalu pantas kita sayangi?

Pertanyaan – pertanyaan diatas tidaklah memerlukan jawaban langsung dari lisan kita, karena justru waktu dan reaksi kita terhadap pertanyaan – pertanyaan itu jauh lebih bisa menjelaskan. Ya, waktu.. Kita akan mendapati sebuah pemahaman baru terhadap arti waktu ketika kita terbawa oleh jalan cerita novel ini, seperti yang selalu menjadi sebuah keyakinan dari tokoh utama novel ini, Tegar. Ia selalu menegaskan keyakinannya akan makna waktu:    
Bagiku waktu selalu pagi, diantara potongan dua puluh empat jam dalam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah. Ketika janji – janji baru muncul seiring embun menggelayut diujung dedaunan. Ketika harapan – harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan terlampau lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi – mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam – malam panjang, gerakan tubuh bresah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.

       Tegar begitu meyakini keajaiban pagi, pagi baginya merupakan sebuah harapan baru yang muncul seiring dengan hangatnya sinar matahari yang mulai memeluk bumi, pagi baginya adalah kanvas putih yang dianugrahkan Tuhan untuk dilukis, dihias sesuai apa yang diinginkan, Pagi baginya merupakan waktu ampuh untuk melawan kenyataan yang begitu teramat menyesakkan, begitu menyakitkan, ketika rasa yang bertahun – tahun lamanya tumbuh harus berguguran hanya dalam hitungan waktu singkat.

          Ia pernah begitu menyesal ketika ia tidak bisa berbuat apa – apa atas apa yang seharusnya ia perbuat, atas apa yang seharusnya ia perjuangkan. Rosie yang begitu ia inginkan. Yang telah ia kenal sedari kanak – kanak, mereka tumbuh bersama, bermain bersama sampai pada akhirnya ada sebuah rasa yang tumbuh dalam hatinya, sebuah rasa spesial yang membuatnya sadar bahwa: ia mencintai Rosie.

         Ia putus asa, ia mencoba mencari sebuah pelarian atas sebuah kesempatan yang pernah ia sia – sia kan , ia meratapi sedih atas kesempatan yang ia lewatkan. Namun disini, tere liye seolah ingin mengatkan kepada pembaca bahwa justru: kita akan lebih menyesal atas apa – apa yang tidak pernah kita kerjakan dibandingkan atas apa – apa yang kita kerjakan. Tegar telah merasakan bagaiman ia begitu menyesal telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan, namun bukan berarti kesempatan tidak akan pernah terulang, yah kita selalu mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri dengan berbagai kesempatan baru yang selalu di anugrahkan Tuhan kepada kita, namun kesempatan dalam artian dan pengertian yang berbeda dari yang kita harapkan sebelumnya.

      Kisah ini mengajarkan kita bahwa kita selalu mempunyai kesempatan jika kita benar – benar meyakininya, sebagaimana mawar yang dapat tumbuh ditegarnya karang, jika kau menghendakinya tumbuh!

Kontrol dan Akuisisi data Suhu menggunakan Mikrokontroler (1)


Selamat pagi / siang / sore
Teman – teman pembaca

      Ketika tulisan ini dibuat, ditempat saya sedang malam hari, waktu yang mengasyikkan buat menulis.:). Sudah lama ga membuat tulisan yangberkaitan dengan dunia kelistrikan, banyak alasan kenapa sudah lama ga bisa update tulisan mengenai dunia kelistrikan,pertama: Karena rutinitas kerja yang membunuh kreatifitas, dan yang kedua karena memang turunnya kuantitas waktu dalam meng-upgrade diri dalam dunia kelistrikan, kontrol maupun elektronika.

      Back to topic, setelah sekian lam menghilang dari dunia control, design dan automation, tiba – tiba saya dihubungi teman yang meminta bantuan untuk tugas akhirnya (skripsi), skripsinya berkaitan dengan dunia kontrol yaitu membuat sebuah prototipe alat pengontrol dan monitoring suhu untuk tanaman, sebenarnya saya ga menyanggupi karena kesibukan dan keterbatasan waktu takutnya ga bisa menyelesaikan proyek ini, namun karena niat ingin membantu teman yang ingin menyelesaikan tugas akhirnya dan sekalian bernostalgia dengan dunia yang saya senangi, akhirnya saya terima tantangan ini.

      Disini, karena memang alatnya masih dalam proses pembuatan / pengerjaan maka akan saya jelaskan secara umum sistem kerja dari alat ini, alat ini menggunakan mikrokontroler AVR Atmega 8535 sebagai controller utama, dengan input berupa 4 buah sensor suhu LM 35, dan output berupa rangkaian kontrol Motor induksi yang digunakan sebagai pompa yang  menyiramkan air untuk menjaga kestabilan suhu ditambah lagi alat terhubung dengan pc / laptop (interfacing)  yang memungkinkan kita bisa memonitoring suhu ruangan secara real –time dan dapat mengambil mengakuisisi data suhu tersebut, jadi dapat dikatakan sistem ini sudah mendekati sistem SCADA (supervisory Control And Data Aquitition).

 
 
 Sebagai diagram blog kontrolnya dapat kita sederhanakan menjadi seperti berikut:

 


      Jadi secara umum sistem ini menggunakan mikrokontroler sebagai controller utamanya yang kemudian akan berkomunikasi dengan PC / laptop dengan Visual Basic sebagai software interfacing dan HMI nya serta port serial sebagai jalur komunikasinya.

      Sekian dulu teman sebagai pembuka untuk penjelasan yang lebih teknis yaitu berupa rangkaian serta programnya akan saya tulis dibagian kedua tulisan ini.

Semoga Bermanfaat.

A Great Story : Gadis Pantai


Title : Gadis Pantai
Author : Pramoedya Ananta Toer
Pages: 231
Publisher : Lentera Dipantara


Gadis pantai merupakan salah satu buah karya Pramoedya ananta toer, sastrawan Indonesia yang pernah masuk nominasi peraih Nobel sastra dunia, The San Fransisco Chronicle Magazine mengatakan Pramoedya Ananta Toer selain seorang pembangkang paling masyhur adalah juga Albert Camus-nya Indonesia. Kesamaan terdapat di segala tingkat, belum lagi kemampuannya mengkonfrontasikan berbagai masalah monumental dengan kenyataan kesehari-harian yang paling sederhana.

Seperti Novel – novelnya sebelumnya, Gadis pantai merupakan sebuah novel yang mengkritik,novel yang menentang, sebuah kisah  perlawanan, perlawanan terhadap budaya feodal, perlawanan terhadap diskriminasi, perlawanan atas nama kemanusiaan. Melalui Gadis Pantai, Pram coba mengingatkan kita bahwa ”tugas utama manusia adalah menjadi manusia”

Gadis Pantai berkisah tentang seorang gadis kampung nelayan, miskin, tak berpendidikan, yang mendadak menjadi selir seorang bendoro, Priyayi kota. Ia menjadi seorang Mas Nganten, nyonya seorang bangsawan, bergelimang dalam kemewahan yang tak pernah ia rasakan dan bayangkan sebelumnya.

Bukan hanya kehidupannya yang berubah, perlakuan orang terhadapnya pun berubah, ia yang dulu terbiasa di perintah sekarang harus memerintah, bahkan bapak dan ibunya pun tak berani menatap wajahnya ketika bicara. Dilain pihak ketika berhadapan dengan bendoro beserta keluarganya ia tetap harus takluk, mengabdi menjaid sahaya yang tak mempunyaihak apapun kecuali diperintah.

Kontradiksi perlakuan inilah yang akhirnya menimbulkan sebuah keberanian, sebuah perlawanan, dan puncaknya ketika sang Bendoro menceraikan si gadis pantai karena melahirkan seorang anak perempuan dan memaksa Gadis pantai untuk meninggalkan sang anak yang baru berumur tiga bulan untuk diasuh oleh sahaya – sahaya berndoro.

Pram dengan bagus menuturkan kisah pergulatan batin sang Gadis kampung nelayan yang tiba – tiba menjadi seorang bangsawan ini. Dengan gaya bertutur dan alur cerita khasnya Pram sebagai Humanis sejati kita seolah diajak untuk Rethinking of Humanity.

Lastly, Gadis Pantai baik itu sebagai sebuah karya sastra atau cerita sejarah sangat pantas untuk dibaca dengan berbagai karena. Karena ia sebuah cerita tentang perjuangan akan nilai – nilai kemanusiaan. Karena ia merupakan karya yang akan membuat kita berani untuk menggugat kemapanan kebiasaan. Karena ia mengingatkan tugas utama kita sebagai seorang manusia yaitu untuk menjadi manusia.