Plural Is Me

Tugas utama manusia adalah menjadi manusia
(Multatuli)

Akal merupakan suatu yang amat teristimewa yang dimiliki oleh manusia yang membedakannya dari mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Dengan akal manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dapat dikatakan baik sesuatu itu ketika bernilai manfaat tanpa menimbulkan mudhorat dari sisi lainnya.

Dalam Al Quran banyak sekali terdapat sindiran - sindiran kepada manusia untuk menggunakan akalnya, " Dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam, banyak terdapat tanda - tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang berfikir", dan banyak lagi kata sejenisnya seperti apakah kamu tidak mengambil pelajaran, bagi orang yang berakal".

Akal membuat manusia dapat memberikan pandangan - pandangannya (interpretasi) terhadap suatu permasalahn, tentunya interpretasi dari setiap orang itu bersikap sujektif, dimana bisa jadi benar menurut dirinya namun belum tentu benar bagi orang lain atau sebaliknya. Namun perbedaan inilah yang membuat kita, manusia selalu belajar dan berupaya untuk memperbaiki diri, fastabiqul khoirot. Bukan untuk menjadi yang paling benar dengan menyalahkan orang lain tetapi sama - sama untuk selalu mengusahakan kebenaran.

Contoh konkret dari perbedaan yang sama - sama mengusahakan kebenaran adalah berbedanya Imam Maliki, hanafi, Syafii dan hambali (Imam mazhab) dalam memproduksi hukum Fiqh, Ke empat dari mereka merujuk pada sumber yang sama, Al Quran dan Sunnah namun menghasilkan produk hukum yang berbeda. Tidak lantas mereka saling salah menyalahkan, namun saling mengapresiasi kebenaran terhadap perbedaan masing-masing.

Dalam konteks di Indonesia, perbedaan ini meruncing dan antar kelompok yang berbeda berusaha untuk saling meniadakan satu sama lainnya, ada setidaknya kelompok fundamentalis yang terwakili oleh Front pembela slam (FPI), Majelis Mujahidin dan lain lain dan kelompok Liberal dari jaringan islam Liberal (JIL). Antar mereka saling meneriakkan indonesia Tanpa FPI dan juga Indonesia Tanpa JIL.

Seharusnya kita dapat menyikapi perbedaan dengan lebih bijak seraya berupaya mengambil kebaikan / hikmah yang ada. Quran secara jelas menegaskan "Manusia itu diciptakan berbeda - beda, beda suku, beda bangsa, beda bahasa agar saling kenal mengenal dan bekerja sama" dalam pasal lain Quran juga menegaskan bahwa "Kalau lah Allah ingin menciptakan kamu menjadi satu umat, maka itu mudah bagiNya"
Teman, pelangi justru indah karena ia terdiri banyak warna. Dan "Sebagaimana kita tidak ingin dianggap salah oleh kebenaran dalam perspektif orang lain, maka orang lain pun tidak ingin dianggap salah oleh kebenaran dalam perspektif kita."
Marhaban ya Ramadhan


Let's Make Our Dream Comes True

Kuberi satu rahasia padamu, Kawan!
Buah Paling manis dari bermimpi adalah kejadian - kejadian luar biasa dalam perjalanan mencapainya
(Andrea Hirata, Writer)

Semua dari kita pasti mempunyai impian, mempunyai cita - cita. impian yang sejak kecil kita pupuk hingga dewasa, impian tentang sesuatu yang tentunya sangat ingin kita capai dan kita dapatkan.

Guru saya dahulu pernah menyampaikan sebuah peribahasa yang hampir setiap orang tahu "Gantungkanlah cita - cita setinggi bintang di angkasa, kelak walaupun engkau tidak dapat meraihnya namun setidaknya engkau masih bisa berjalan tegak mengikuti cahayanya". Sebuah kalimat yang sederhana, namun memiliki arti yang luar biasa.

Teman, masihkah kita ingat dengan impian - impian masa kecil kita dulu, atau harapan dan cita - cita kita, ataukah kita sudah lupa, atau bahkan kita tidak mempunyai impian lagi, ataukah kita sudah tidak berani lagi untuk bermimpi!

Sejarah mencatat, orang - orang besar dalam sejarah itu adalah mereka yang mempunyai mimpi - mimpi besar, orang yang memimpikan apa yang tidak diimpikan oleh siapapun. Maka dari itu mari kita buat impian kita pada masa lau menjadi kenyataan di hari ini dan impian kita dihari ini menjadi sebuah kenyataan pada masa yang akan datang, Let's Make our Dream Comes True!

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk impian - impian itu, dan kalau kita saja sudah tidak berani membela impian - impian kita maka siapa lagi yang akan membelanya!

Belajar Pada Sistem Pendidikan Belanda, Pendidikan yang Memerdekakan!


Pendidikan merupakan indikator kemajuan suatu bangsa. Suatu bangsa yang memiliki system pendidikan yang baik tentunya akan mempunyai sumber daya manusia yang mumpuni untuk membangun negeri, ada Negara besar yang terpuruk karena system pendidikannya buruk, namun adapula Negara dengan sumber daya terbatas namun mempunyai system pendidikan yang baik mampu menjadi Negara yang maju baik dari segi ekonomi maupun teknologi.

Dalam konteks ini, saya mencoba mengulas sistem pendidikan Indonesiapada masa Hindia Belanda yang kurikulumnya mengacu pada system pendidikan Belanda, yang menurut saya dapat kita contoh dan terapkan untuk system pendidikan Indonesiadewasa ini. Banyak intelektual – intelektual Indonesiayang memperjuangkan kemerdekaan lahir dari kalangan cerdik pandai hasil didikan sekolah Indonesiabentukan Hindia Belanda. Sebut saja Agus Salim, Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, dll. Bahkan Hatta dan Syahir merupakan lulusan dari Universitas di Belanda.

Pendidikan pada masa itu, walaupun di masa Indonesiabelum merdeka namun mampu menciptakan kesadaran moral dan intelektual bagi para pelajarnya. Dan secara kualitas pun pendidikan setara SMP pada masa itu MULO(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau HBS (Hogere Burger School) yang setara SMA, lulusannya minimal menguasai 3 bahasa asing: Belanda, Inggris dan Prancis. Dapat kita bayangkan betapa luar biasanya lulusan  universitas jika lulusan sekolah menengahnya saja seperti itu.

Apa yang menjadi perbedaan dasar dari system pendidikan dahulu dan sekarang?. Dalam novel Boemi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan kehidupan kaum terpelajar masa Hindia Belanda ada beberapa hal yang membedakan kualitas pendidikan pada masa itu dan sekarang.

Pertama, Sistem Pendidikan yang mengekplorasi kreatifitas. Dengan kreatifitas kita dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan, kreatifitas menuntut kita untuk selalu berfikir untuk memecahkan sesuatu masalah dengan berbagai macam cara, dengan berbagai macam sudut pandang. Dan system pendidikan yang mengeksplorasi kreatifitas inilah yang ada masa Hindia Belanda dahulu dan belum muncul pada masa pendidikan sekarang.

Kedua, Sistem pendidikan yang memerdekakan pikiran, pada masa Hindia Belanda, seperti yang diceritakan Pramoedya dalam novelnya memberikan kebebasan penuh kepada pelajarnya untuk mengemukakan pendapatnya, diskusi ilmiah pada masa itu merupakan kegiatan yang lebih mendominasi dibandingkan dengan kegiatan belajar lainnya. Guru bertindak sebagai fasilitator yang menengahi dan sebatas memberikan Brain Storming, selebihnya merupakan kesempatan siswa untuk menyatakan apa yang menjadi pendapatnya.

Ketiga, Sistem Pendidikan dengan budaya iterasi. Karena kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk tulisan adalah sebuah bukti mutlak bangsa berperadaban tinggi. Menulis berbagai hal, menuliskan ide-ide besar, menulis tentang sains, budaya, seni. Sejarah mencatat, semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Pada masa pendidikan era Hindia Belanda kita akan temui banyak sekali surat kabar yang memuat tulisan – tulisan kaum terpelajar. Nama – nama seperti Hatta, Soekarno, Kartini, Natsir, dan banyak lagi adalah mereka yang banyak mengemukakan pendapatnya melalui tulisan.

Dengan ketiga perbedaan yang dijelaskan diatas, kita tidak usah sungkan untuk mengadopsi system pendidikan Negara lain dalam hal ini Belanda sebagai usaha memperbaiki system pendidikan Indonesia, jika 1 abad lalu ketika Indonesia masih dalam keadaan terjajah system pendidikannya mampu melahirkan intetektual terpelajar yang memerdekakan maka harusnya ketika Indonesia sudah merdeka, Intelektual pelajar yang dihasilkan system pendidikan Indonesia bisa jauh lebih baik dari dahulu.

Referensi:

Ananta, Pramoedya.1980. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera di Pantera

Noer, Deliar.2001. Muhammad Hatta, Hati Nurani Bangsa. Jakarta: Kompas

Organisasi[dot]org.2007. Sekolah Pada Zaman Kolonialisme Belanda Di Indonesia. http://organisasi.org/jenis-macam-sekolah-pada-zaman-kolonialisme-belanda-di-indonesia-sejarah-jaman-dulu-jaduldiakses tanggal 14 April 2012.



Etika Diskusi

1. Bisa saja pendapat saya benar namun tedapat sedikit kesalahan maka ambilan kebenaran dan tinggalkanlah kesalahan yang sedikit itu, atau bisa jadi pendapat saya salah namun terdapat sedikit kebenaran maka tinggalkanlah kesalahan dan ambilah kebenaran yang sedikit itu.

2. Sebagaimana kita yang tidak ingin dianggap salah oleh kebenaran dalam perspektif orang lain, maka orang lain pun tidak ingin dianggap salah oleh kebenaran dalam perspektif kita.

3. Jika berdebat, selalu kuharap kebenaran muncul di lisan lawan bicaraku; dengan begitu aku bertambah ilmu.

4. Imam Hanafi pernah diminta berfatwa untuk menyerang kelompok lain yang berbeda pendapat, ia menolak dan berkata: Bagaimana kalau dimta Tuhan, mereka yang benar dan saya yang salah.

5.Anda benar bukan berati saya salah, Saya benar bukan berarti anda salah.

6. Dalam komunitas ilmu, setiap orang sama. Yang Membedakan: kekokohan konseptual, kecermatan metodologi dan ketajaman analisa.

7. jangalah suatu pribadi/kelompok mengolok - olok pribadi / kelompok lainnya, karena bisa jadi yang di olok - olok itu lebih baik disisi Allah, karena lebih jujur dalam berserah diri kepada Allah. (Quran)

Journey: Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Eropa | 99 Cahaya di Langit Eropa


Membaca sejarah tidak melulu berarti mempelajari manuskrip – manuskrip lama berisi penjelasan dan komentar para sejarahwan di perpustakaan, atau membaca biografi – biografi tokoh dunia dan kehidupannya, terkadang sejarah dapat kita telusuri secara komprehensif dengan hanya melihat warisan – warisan sejarah itu sendiri yang dapat berupa lukisan, bangunan atau kebudayaan yang ditinggalkannya.

Dan seperti itu juga yang bisa saya temukan pada novel: 99 Cahaya di Langit Eropa, perjalanan Menapak jejak Islam di Eropa, karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra, saya seolah dibawa oleh alur tulisan sang penulis, untuk mengenal Eropa dalam romantisme sejarahnya, dibawa untuk melihat pasang surut peradaban Islam di Eropa,  dibawa menelusuri jejak – jejak petualangan Ibnu Batutah, kedalaman analisa Ibnu Kholdun serta jejak ilmu Ibnu Rusyd, dan masa – masa ketika Cordova menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, sumber peradaban.

Pengalaman penulis sebagai jurnalis semakin memperkuat kisah yang ingin disampaikannya, kehidupan di Wina, perjalanan di Paris, Wisata di Al Hambra serta kunjungan di Istambul. Saya dibuat seolah merasakan sensasi perjalanan tersebut dengan membaca novel sejarah ini, ya.. Novel yang menceritakan sejarah atau juga Sejarah yang di kemas dalam alur novel, Absolutely Great!

Perjalanan menapak jejak islam di Eropa ini membuka perspektif baru bagi saya, seorang muslim untuk memahami realitas sejarah, islam memang pernah menginspirasi Eropa, namun pada kenyataan sekarang bahwa umat islam dari segi teknologi dan ilmu pengetahuan harus belajar dari Eropa juga sebuah keniscayaan. Mengutip salah satu  quote dari buku ini “yang paling penting dalam mempelajari sejarah adalah bukan hanya kemampuan menjabarkan siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan mengadaptasi semangat untuk terus menatap ke depan, mengambil sikap bijak darinya dalam mengahdapi permasalahan – permasalahan dunia”

Dan hal yang unik adalah cara penulis menceritakan setiap peninggalan sejarah Islam dengan perspektif baru, misalnya perjalanan di Museum kota Wina yang menonjolkan seorang muslimah taat asal Turki, Fatma. Yang ingin menebus “dosa sejarah” dari kakek buyutnya Kara Mustafa yang pernah mengekspansi kota Wina dengan menjadi Duta Muslim yang Baik”. Atau, dalam perjalanan ke Paris, ada Marion, Sejarahwan Mualaff yang justru melihat pengaruh seni dan kebudayaan islam ketika menjelaskan peninggalan - peninggalan di Museum Louvre Paris kepada Hanum.

Lain di Wina dan di Paris, lain pula di Spanyol dan Turki, di Spanyol Hanum justru megenal jejak – jejak Islam melalui Sergio, Seorang Agnostic pribumi yang membuat perjalanan di Mezquita atau masjid Katedral menjadi semakin menarik dan di tutup dengan perjalanan di Istambul, Turki. Deskripsi ala jurnalis oleh penulis membuat  saya seolah melihat dengan jelas kegagahan Hagia Sophia, Gereja terbesar pada zamannya, yang pernah disulap menjadi Masjid Megah tanpa merubah ornament gereja didalamnya,  yang kini menjadi Museum Kota.

99 Cahaya di Langit Eropa,Journey: Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Eropa             Eropa bukan sekedar Eiffel atau Colosseum, bukan sekedar Tembok Berlin, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, Peradaban Cahaya yang sinarnya pernah menerangi dan mencerahkan dunia.

99 Cahaya di Langit Eropa By Hanum Salsabiela Rais, Recommended!






Tags: Review  99 Cahaya di Langit Eropa, Catatan 99 Cahaya di Langit Eropa, Novel Islami , Novel Sejarah

Refleksi: Empat tipe manusia

Dalam sebuah Prolog singkatnya yang tertuang menjadi buku, KH Mustafa Bisri ber sajak mengenai empat tipe manusia,

Pertama, orang yang mengetahui bahwa dirinya itu tahu, maka belajar lah dari dia.

Kedua, orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tahu, maka ingatkanlah dia

Ketiga, orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu, maka ajarilah dia

Keempat, orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu, maka tinggalkanlah dia
 

Kick Andy : Mengejar Mimpi

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri "
(Pramoedya)

      Kick Andy merupakan salah satu acara talk show Indonesia yang selalu menampilkan sesuatu yang berbeda, yang segar dan inspiratif di tengah banyaknya tayangan-tayangan yang hanya memprioritaskan rating semata.

      Dalam episode tertanggal 13 April 2012, Andy Noya (Host kick Andy) mengundang mereka – mereka, pelajar yang tetap berprestasi disekolahnya dan menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja, mereka bekerja sambil sekolah, dan tetap berprestasi.

      Keterbatasan dalam segi ekonomi tidak membuat mereka mengesampingkan pendidikan, walaupun mereka harus melanjutkan sekolah sembari bekerja untuk membiayai pendidikan mereka. Bagi mereka, pendidikan merupakan senjata ampuh untuk memotong rantai kemiskinan dan alat untuk menyebrangi jembatan kesejahteraan.

      Kick Andy : Mengejar MimpiIndah Riyanti, narasumber pertamanya, seorang mahasiswi semester 6 jurusan Bahasa Indonesia yang bercita- cita menjadi guru ini, harus membantu perekonomian orang tuanya dengan menjadi Tukang Ojek, ia harus memulai aktivitasnya mengantar jemput anak – anak sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang untuk selanjutnya mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah.

Kick Andy : Mengejar Mimpi      Selain Indah, ada juga Mutia Wahyuni. Seorang pelajar SMK otomotif di Lhoksumawe Aceh yang harus membagi waktu sekolahnya dengan profesinya seorang mekanik di sebuah bengkel. Dari hasil kerja kerasnya, Mutia yang bercita – cita menjadi seorang pengusaha ini, bisa membiayai sekolahnya sekaligus meringankan beban orang tuanya yang hanya seorang petani.

Kick Andy : Mengejar Mimpi     Di ibukota sendiri, ada Heriyanto, pemuda 19 tahun yang sempat putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup lagi membiayai sekolahnya, akhirnya dapat melanjutkan pendidikannya lagi berkat usaha pantang menyerahnya untuk bekerja, akhirnya ia yang sekarang tercatat sebagai pelajar di SMK tataboga ini, menjadi pengusaha telor asin dan bekerja part time di dapur sebuah hotel.

      Mereka menurut saya, merupakan mutiara – mutiara yang memehami betul pentingnya pendidikan, pentingnya sebuah ilmu!. Mereka menjadi jawaban bagi sebagian orang yang menilai pesimis tentang masa depan pemuda – pemudi Indonesia, mereka memberi jawaban, bahwa Indonesia masih banyak memiliki heroes yang akan terus menginpirasi! Mereka merupakan tangan - tangan yang menginspirasi  kehidupan, ia tidak hanya hidup tetapi menghidupi, tidak hanya bernafas tetapi juga memberi nafas.

Siapa yang ingin hidup bahagia di dunia ini, haruslah dengan ilmu!
Siapa yang ingin bahagia di akhirat kelak, haruslah dengan ilmu!
Dan siapa yang ingin hidup bahagia baik dunia maupun akhirat haruslah dengan ilmu
(Muhammad SAW)